2 Tidak cepat berpuas hati. Nah karakter yang kedua yaitu jangan pernah merasa cepat berpuas hati. Ketika kamu sudah bisa berbahasa Inggris, jangan sombong dulu, lihatlah orang - orang yang sudah diatasmu. Meskipun bahasa Inggrismu sudah tergolong lancar, namun tetaplah belajar dengan sungguh - sungguh agar bisa sampai mahir.
orangJawa menggunakan bahasa Indonesia sebagai aktivitas komunikasi. Tidak ada perbedaan tentang siapa yang boleh menggunakan bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia bersifat umum, universal atau menyeluruh. Semua orang berhak menggunakan bahasa Indonesia baik orang tua, remaja, maupun anak-anak untuk berkomunikasi. Bahasa ibu adalah bahasa
Ceritakanpentingnya tumbuhan bagi kelangsungan di bumi! Diskusikan bersama orang tuamu tentang jenis pekerjaan yang membantu tanaman tumbuh dengan baik! Kerjakan pada kolom berikut! Pembelajaran 2 Ayo Belajar 3.1 dan 4.1 SBdP Menggambar adalah suatu proses mengungkapkan gagasan seseorang melalui bahasa gambar.
Dalamkehidupannya, manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan Manusia dibekali kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dengan I. PENDAHULUAN. komunikasi, melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi)
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. - Setiap lebaran tiba, rumah saya yang terletak di salah satu kecamatan di ujung selatan Jawa Barat selalu dipenuhi para kemenakan. Sebagian telah duduk di sekolah menengah pertama, sebagian lagi masih di sekolah dasar. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, baik dengan orang tua maupun dengan sesama saudara sepupu. Orang tua mereka hampir seratus persen penutur bahasa Sunda. Namun tak seorang pun dari para kemenakan itu yang fasih berbahasa Sunda. Sebagai paman, mereka memanggil saya “om”, alih-alih “mang”. Bagaimana dengan para tetangga? Setali tiga uang. Dulu, saat saya seusia mereka, kondisinya terbalik. Jika saya dan teman-teman ada yang berbicara bahasa Indonesia di luar jam pelajaran sekolah, pasti diolok-olok. Dianggap meniru gaya orang kota. Di rumah, bahasa yang orang tua kami gunakan untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya adalah bahasa Sunda. Ada proses pewarisan bahasa daerah, bahasa ibu, atau bahasa sékésélér, yang kiwari mulai ditinggalkan para pasangan muda saat berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Kondisi serupa terjadi juga di Kabupaten Flores Timur. Beberapa kawan yang berasal dari Larantuka dan Solor menceritakan tentang proses komunikasi dengan anak-anak mereka yang mayoritas menggunakan bahasa Indonesia, alih-alih menggunakan bahasa Lamaholot. Proses pewarisan terputus. Anak-anak hanya memungut bahasa daerah dari lingkungan di luar rumah. Kemahiran berbahasa daerah semakin merosot. Jika membaca catatan Ajip Rosidi, orang yang telaten dalam menjaga dan mengembangkan bahasa Sunda, dalam Kudu Dimimitian di Imah 2014, rupanya fenomena ini bukan hal baru. Sekali waktu ia memenuhi undangan acara syukuran kawannya di Jakarta yang ia sebut “Ki Silah”, yang ia kenal sejak 1956 saat diadakan Kongres Pemuda Sunda. Adik kawannya itu bertahun-tahun menulis situasi politik dan sosial di majalah Manglé yang berbahasa Sunda. Sebagaimana pengakuan kawannya, kakak-beradik itu dibesarkan di lingkungan Paguyuban Pasundan. Namun Ajip merasa heran saat acara syukuran itu memutar video yang berisi riwayat hidup singkat “Ki Silah” yang dibuat oleh anak kawannya tersebut. Dalam video muncul nama Ramadhan Sastrawan asal Cianjur itu tidak ditulis “Ramadhan Karta Hadimadja”, melainkan “Kiai Haji Ramadhan”. Kemudian saat anak pertama kawannya itu berpidato menghaturkan terima kasih kepada ayahnya, ia menggunakan bahasa Inggris. Juga kedua adiknya yang berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Inggris. Di titik itu Ajip bertanya-tanya. Kenapa kawannya yang lahir dan hidup dalam lingkungan pergerakan Sunda, juga pernah ditahan selama hampir empat tahun gara-gara terlibat dalam gerakan kesundaan yang berseberangan dengan pemerintah, tidak menanamkan kesundaan, terutama dalam bahasa, kepada anak-anaknya. Sebagian kawannya yang lain mengatakan kepadanya bahwa hal itu terjadi karena mereka lama hidup di luar negeri saat “Ki Silah” menjadi diplomat. Namun alasan itu buru-buru Ajip bantah, sebab kawannya yang lain yang juga lama bertugas sebagai diplomat, malah anak-anaknya lahir di Perancis, semuanya mampu berbahasa Sunda. Ketakutan dan Tidak Mangkus “Apakah Ki Silah menjadi jera menggeluti kesundaan setelah dipenjara selama hampir empat tahun? Kemudian menyingkirkan segala rupa yang berbau Sunda?” tanya Ajip. Pertanyaan itu bisa jadi jawabannya “ya”, sebagai cara bertahan hidup “Ki Silah” atas masa lalunya yang berseberangan dengan pemerintah, yang kemudian ia bisa berkiprah di Kementerian Luar Negeri. Dalam konteks yang agak berbeda, orang-orang Minangkabau merevolusi tipe nama mereka setelah kegagalan PRRI. Namun intinya sama ada kompromi yang mengorbankan akar tradisi. Kita tahu, alasan ketakutan seperti contoh di atas tak dapat dilekatkan ke dalam konteks kiwari dalam penolakan menggunakan bahasa daerah. Perkara lain yang paling memungkinkan dijadikan alasan oleh para orang tua adalah soal keefektifan. Anak-anak menghabiskan sebagian hidup di sekolah dan lingkungan pergaulan mereka. Bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Sementara di lingkungan pergaulan—khususnya dalam kasus bahasa Sunda—meski para orang tua mereka penutur bahasa Sunda, proses pewarisannya terputus, sehingga mereka lagi-lagi menggunakan bahasa Indonesia. “Tidak mangkus,” ujar seorang kawan asal Bandung, beristri orang Bandung, dan tinggal di Jakarta, soal tak digunakannya bahasa Sunda dalam berkomunikasi dengan anaknya. Alasan tersebut masuk akal. Sah-sah saja jika ia menghindari kerepotan mengajarkan bahasa Sunda, di tengah keseharian yang hampir sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia. Lagi pula, jika mengacu pada hasil penelitian Jérôme Samuel dalam Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan 2008, bahasa daerah memang kalah bersaing dengan bahasa Indonesia. Fungsinya juga semakin terbatas, terutama dalam tulisan. Pada masa kolonial bahasa daerah hadir dalam pelbagai bidang seperti kesusastraan daerah, terjemahan kesusastraan dari bahasa Melayu dan bahasa Barat, pengajaran ilmu hitung, sejarah, ilmu bumi, ilmu pendidikan, ilmiah populer kesehatan, atau teknik listrik, mekanik. Namun sejak 1945 penggunaannya semakin terbatas. Pers yang mempertahankan penggunaan bahasa daerah hampir semuanya sekarat. Lagu-lagu pop daerah lebih lebih dekat ke ragam lisan daripada tulisan. Sejumlah sensus menyiratkan bahwa sejak awal kemerdekaan, bahasa Indonesia berkembang tanpa menyebabkan kemunduran bahasa-bahasa daerah. Sehingga kedwibahasaan seolah-olah menjadi norma dalam kemampuan berbahasa di Indonesia. “Akan tetapi, pernyataan tentang bahasa-bahasa daerah ini banyak berlandas pada gambaran resmi sesaat yang ketepatannya sulit diukur, sementara pengamatan di lapangan menunjukkan kenyataan yang berbeda […] Terjadi kemunduran bahasa-bahasa daerah, baik di wilayah-wilayah tepian ataupun yang lebih dekat pusat,” tulis Samuel. Jika ditimbang dari sudut tersebut, soal penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa ibu dalam percakapan di keluarga, pada akhirnya tergantung kepada sesuatu yang lebih bersifat emosional, yaitu perasaan terhubung dengan sékésélér atau leluhur. Contoh untuk kondisi ini telah disinggung sebelumnya, tentang keluarga diplomat asal Sunda yang bertugas di Perancis dan tetap menggunakan bahasa Sunda di rumah. Tak ada pertimbangan keefektifan, juga tak ditakar oleh mangkus tidaknya bahasa tersebut. “Anaknya yang paling besar berkata kepada saya, bahwa sebetulnya bahasa utama mereka adalah bahasa Perancis sebab lahir, tumbuh, dan sekolah di Paris, tapi karena [orang tua dan saudara-saudaranya] di rumah menggunakan bahasa Sunda, ia pun mampu menggunakan bahasa tersebut,” imbuh Ajip. Gengsi dan Kekenesan Dalam masyarakat dwibahasa, fungsi bahasa galibnya memang berbeda-beda. Dan seperti dituturkan sebelumnya, di Indonesia bahasa daerah memiliki fungsi yang lebih rendah daripada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Hal ini kemudian melahirkan prestise berbahasa yang berbeda-beda. “Lazimnya, orang merasa berprestise tinggi jika dia dapat berbahasa Inggris dengan baik, yakni bahasa yang memiliki fakta keinternasionalan. Sebaliknya, orang merasa berprestise rendah jika hanya dapat berbahasa daerah,” tulis R. Kunjana Rahardi dalam Dimensi-dimensi Kebahasaan Aneka Masalah Bahasa Indonesia Terkini 2006. Ia menambahkan, kenyataan berbahasa seperti itu bukan hanya di Indonesia, tapi juga terjadi di negara-negara Eropa terhadap bahasa patois atau variasi lokal suatu bahasa yang bersifat nonstandar. Menurutnya, bahasa ini tidak terpelihara, tidak terkultivasi, dan tidak dikembangkan secara baik, serta hanya dipakai masyarakat kelompok bawah. “Bahkan, secara ironis, mereka menyebut sebagai bahasanya orang-orang dari dunia keempat,” tentang tingkatan gengsi bahasa, jika ditarik ke dalam kondisi penggunaan bahasa daerah hari ini di Indonesia, bisa jadi menjadi salah satu alasan para orang tua dalam menggunakan bahasa Indonesia saat berkomunikasi dengan anak-anak mereka, alih-alih menggunakan bahasa daerah. Jika tak sepenuhnya, leksikon-leksikon tertentu dalam bahasa yang lebih bergengsi mereka pungut dan dicampuradukkan dengan bahasa yang mereka pakai sehari-hari. Rahardi menyebut laku ini sebagai “menyombongkan diri”. Sementara Alif Danya Munsyi dalam Bahasa Menunjukkan Bangsa 2005 menyebutnya sebagai “kekenesan berbahasa”. Infografik Prestise Bahasa. waktu di bulan Oktober 2003, sebelum meninggalkan sebuah hotel di Yogyakarta, Danya Munsyi diminta untuk menuliskan kesan-kesan terhadap hotel tersebut. Saat hendak menulis, ia melihat tulisan Syamsul Maarif saat itu menteri yang sehari sebelumnya menginap di hotel yang sama. “Like other guests, I feel good stay in Santika. Manajement tahu bagaimana memperlakukan tamu secara profesional,” tulis Maarif yang dipanggil “encik” oleh Danya Munsyi. Demi melihat tulisan itu, ia kemudian mengeluarkan unek-uneknya tentang penyakit “nginggris” yang merasuki orang Indonesia, khususnya kalangan terpelajar, yang menurutnya semestinya lebih mengerti konteks sejarah yang mengiringi lahir dan tumbuhnya bahasa Indonesia. “Bahasa Indonesia menjadi tidak karuan karena pemakainya, terutama kalangan terpelajar, dalam bercakap maupun menulis, tampak seperti kesurupan, jor-joran, menghias bahasa Indonesia dengan kata-kata, istilah-istilah, bahkan kalimat-kalimat tertentu bahasa Inggris. Tidak jelas apa maunya, apakah supaya kelihatan pintar, kelihatan cendekia, ataukah sekadar menunjukkan bakat genit dan kebolehan bersolek?” tegasnya. Kekenesan ini, yakni mencampuradukkan dua bahasa yang memiliki gengsi berbeda, bisa juga terjadi dalam percampuran antara bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Dari sisi sosiolinguistik dan sosiokultural, menurut Kunjana Rahardi, kenyataan sintesis kebahasaan tersebut seolah-olah tidak tersanggahkan. Namun dalam kerangka pembinaan dan pembakuan bahasa, kenyataan kebahasaan ini merupakan spesimen pelanggaran yang perlu diperbaiki. Dalam semangat pemeliharaan dan pemajuan bahasa daerah, pelbagai kenyataan ini tentu mustahak menjadi catatan yang mesti diperhatikan. Memang bukan hal mudah untuk memperbaikinya, namun setiap orang yang masih peduli setidaknya bisa mempertimbangkan usul Ajip Rosidi bahasa daerah bisa dimulai di rumah sehingga tak memotong proses pewarisannya. - Sosial Budaya Penulis Irfan TeguhEditor Ivan Aulia Ahsan
pikisuperstar/freepik Bahasa daerah harus dilestarikan agar tidak punah. - Apakah kamu masih sering menggunakan bahasa daerah ketika mengobrol bersama teman-temanmu? Bahasa daerah di Indonesia menjadi ciri khas dan keistimewaan masing-masing daerah. Ketika kita menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi sehari-hari, kita sudah menunjukkan kebanggaan kita terhadap Indonesia. Sikap bangga ini perlu kita pupuk agar kekayaan budaya Indonesia tidak luntur oleh zaman. Nah, pada pelajaran tematik kelas 4 SD tema 7, kita akan mencari tahu jawaban dari pertanyaan 'bagaimana cara mencegah kepunahan bahasa daerah?'. Yuk, cari tahu kunci jawaban pertanyaan tersebut dari sini! Cara Melestarikan Bahasa Daerah Berikut ini beberapa cara yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk melestarikan bahasa daerah. 1. Sering menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Baca Juga Cari Jawaban Kelas 4 SD Tema 7, Ide Pokok dalam Bacaan 'Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah' 2. Tidak malu menggunakannya di tempat umum. 3. Menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap istilah-istilah dalam bahasa daerah. Artikel ini merupakan bagian dari Parapuan Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Sumber Dewasa ini umumnya generasi milenial cenderung tidak menggunakan bahasa daerah dan banyak yang tidak paham lagi berbahasa daerah. Indonesia memiliki beragam suku bangsa dan bahasa lho. Dalam berinteraksi setiap individu tidak hanya berinteraksi dengan satu suku daerah saja melainkan bisa dengan berbagai suku bahkan sosial setiap individu pasti membutuhkan bahasa. Bahasa yang digunakan tentu bahasa yang bisa digunakan orang-orang diseluruh negara sehingga memudahkan mereka dalam berinteraksi. Dengan begitu, orang cenderung menggunakan bahasa internasional, sehingga berangsur-angsur melepaskan bahasa daerah yang menjadi ciri khas dirinya tinggal. Maka dari itu budayakan bahasa daerah pada generasi yang sudah kita lihat sekarang ini, penggunaan bahasa daerah sudah mulai hilang di kalangan generasi milenial. Bahasa daerah juga jarang sekali diajarkan orang tua kepada anak-anaknya. Mendidik anak menggunakan bahasa daerah tidak hanya di kalangan rumah saja lho, namun di lingkungan masyarakat juga perlu mengajarkan dan melestarikan bahasa daerah yang merupakan budaya dan nilai luhur desa atau kampung-kampung yang biasanya menjaga kelestarian bahasa daerah pun mulai terjajah dengan pembangunan yang mengarah pada “mengkotakan desa”. Lambat laun desa yang khas dengan budaya dan bahasa, berubah menjadi kota dengan pesatnya pembangunan dan perkembangan sekarang ini. Hal tersebut tentu sangat berpengaruh dalam bahasa yang menjadi peran penting dalam perubahan yang terus terjadi dengan segala pencitraan dan banyaknya pergaulan. Ada banyak kekhawatiran yang sudah diungkapkan para linguis, guru, tokoh masyarakat, bahkan masyarakat awam pun mengenai hal itu. Persoalan ini menjadi kegelisahan Bahasa Daerah Kurang Diminati?Sebagian besar anak Indonesia lahir dengan bahasa ibu yaitu bahasa daerah. Ada juga sebagian penutur berbahasa ibu Bahasa Indonesia, terutama yang tinggal di kota besar dan di dalam keluarganya berbahasa Indonesia. Bahasa ibu adalah bahasa pertama kali diperoleh dan dikuasai oleh seseorang sejak ia lahir melalui interaksi dengan masyarakat. Bahasa ibu dianggap signifikan, bukan hanya pada aras nasional, tetapi juga daerah bukan hanya penting bagi penutur bahasa dan kebudayaan daerah, tetapi juga berkontribusi untuk pemerkayaan kosakata Bahasa Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada level kedaerahan penggunaan bahasa daerah masing-masing oleh generasi muda masih relatif sering. Namun, pada tataran urban kecenderungan ketidakterpakaiannya semakin kentara. Migrasi generasi muda ke kota-kota besar karena alasan menuntut ilmu atau mencoba peruntungan tidak bisa tidak seakan-akan membuka peluang untuk semakin kurangnya mereka berbahasa daerah, terlebih jika tidak ada kawan atau sanak saudara sedaerah di tanah rantau yang berbahasa daerah sama. Terdapat berbagai pandangan mengapa bahasa daerah kurang diminati generasi mereka merasa gengsi menggunakan bahasa daerahnya. Mereka lebih cenderung memilih Bahasa Indonesia. Kadang-kadang tuturan Bahasa Indonesianya diselip-selipkan dengan sepatah dua kata asing, terutama Bahasa Inggris, mungkin agar kelihatan dan kedengaran keren. Selain itu, mereka malu berbahasa bahasa daerah dianggap kampungan, tidak modern, tidak intelek, tidak gaya, dan tidak mengikuti tren. Faktor lain, mereka tidak paham lagi berbahasa daerahnya karena bahasa itu memang sudah jarang, bahkan hampir tidak pernah, digunakan lagi dalam berbagai aktivitas nonformal atau keseharian di rumah atau daerah yang tersebut membawa dua sisi bagi kemajuan ilmu bahasa yaitu sisi negatif dan positif. Sisi negatifnya adalah kecenderuangan itu membawa dampak semakin sedikitnya penutur baik penutur asli maupun bukan penutur asli bahasa daerah tersebut. Jika dibiarkan terjadi dalam waktu lama dan terus menerus di khawatirkan hal itu dapat menyebabkan bahasa daerah itu semakin dekat dengan ambang Bahasa Indonesia diuntungkan. Mereka akan berbahasa Indonesia dalam aktivitas sehari-harinya. Jadi, jumlah penutur Bahasa Indonesia kian hari kian bertambah banyak. Tidak dapat di paksakan untuk semua generasi milenial menggunakan bahasa daerah, karena di luar rumah kebutuhan berkomunikasi tidak cukup dengan satu bahasa saja, melainkan multibahasa, begitu lah cara generasi milenial sekarang ini bergaul. Sehingga kebutuhan akan berkomunikasi di antara mereka berjalan dengan baik. Efektifnya bahasa daerah karena keluarga, sebagian besar keluarga masih dalam satu rumpun yang generasi milenial yang hidup dalam ruang lingkup yang luas, sejak kecil tentu memiliki pengaruh positif dan negatif bagi tumbuh kembangnya. Setiap generasi memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Namun, bukan untuk menghina kekurangan setiap generasi melainkan mengambil pelajaran positif di era sekarang maupun sebelumnya. Bahasa daerah merupakan perwujudan bangsa, Indonesia memiliki keramahtamahan dalam kehidupan sosial dan spiritual. Maka sebagai generasi penerus bangsa lestarikan lah bahasa daerah kita.
Informasi Umum Kode Klasifikasi - communication, content analysis, semiotics Jenis Karya Ilmiah - Skripsi S1 - Reference Subjek Communication-interpersonal Informasi Lainnya Abstraksi Kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan. Salah satu aspek kebudayaan yang kiranya menduduki prioritas utama untuk dibina, dikembangkan, dan selanjutnya diwariskan ialah bahasa-bahasa daerah. Karena bahasa daerah merupakan alat komunikasi yang pertama diperoleh anak dalam keluarga dan juga sebagai petunjuk identitas kebudayaan daerah yang perlu dilestarikan yang terjadi dalam sebuah keluarga, merupakan cara seorang anggota keluarga untuk berinteraksi dengan anggota lainnya. Dengan melakukan komunikasi interpersonal yang baik dan efektif diharapkan dapat menanamkan pemahaman tentang bahasa dan budaya. Komunikasi interpersonal yang efektif harus meliputi keterbukaan, empati, sikap positif, sikap mendukung, dan kesetaraan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi interpersonal seperti apa yang diterapkan keluarga terutama orangtua ke anak untuk menanamkan pengetahuan bahasa daerah pada anak dengan lingkungan tempat tinggal yang memiliki bahasa daerah dan budaya yang berbeda dengan daerah asalnya. Berdasarkan hal tersebut maka diambil tema tentang Komunikasi Interpersonal Orang Tua ke Anak dalam Menanamkan Pengetahuan Bahasa Karo Studi Pada Organisasi Keluarga Karo Katolik Bandung dan Sekitarnya K3BS. Penulis menganalisa fenomena yang terjadi dengan pelaporan hasil wawancara, observasi, mengaitkan kasus yang diteliti dengan relevansi teori, menarik garis besar fenomena yang diteliti. Data penelitian dilakukan dengan wawancara, observasi, dan catatan di lapangan guna menghasilkan data dan informasi yang relevan dari setiap responden. Dengan demikian komunikasi antar pribadi yang antara orangtua dan anak dalam hal memberikan pengetahuan bahasa daerah batak karo di lingkungan keluarga karo katolik bandung dan sekitarnya, sudah berjalan cukup efektif. Hanya saja intensitasnya masih kurang karena aktivitas yang sangat padat, sehingga tingkat perkembangannya masih rendah. Komunikasi tersebut dapat dikatakan efektif karena, komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada akhirnya menimbulkan suatu tidakan Orang tua mulai membiasakan anak untuk mendengar bahasa daerah setiap harinya, membawa anak ke acara dimana kelurga besar berkumpul, seperti acara arisan keluarga, pernikahan, maupun hanya sekedar silaturrahmi dengan keluarga besar. Suasana yang santai dan nyaman saat berkomunikasi dengananak saat memberikan pengetahuan tentang bahasa daerah akan membuat anak merasa nyaman , dengan demikian suasana akrab dan harmonis akan meningkat dalam keluarga. Koleksi & Sirkulasi Tersedia 1 dari total 1 Koleksi
Valerie46 Valerie46 June 2019 2 6 Report Orang tuamu selalu menggunakan bahasa daerah untuk kamu tidak mengerti dengan bahasa daerah tersebut! Bagaimana sikap mu?! Zidanswag Sikap saya nurut saja apa yg mereka perintahkan walaupun tidak mengerti, nanti lama kelamaan kita sendiri yg terbiasa 6 votes Thanks 9 tashbita JawabanKalau menurut saya Mungkin itu tidak apa apa,Tetapi mungkin kamu bisa minta diajarkan bahasa daerah mu kepada orang tuamu~semoga membantu~ 3 votes Thanks 2 More Questions From This User See All Valerie46 June 2019 0 Replies Apa yang membedakan bahasa suatu daerah dengan daerah lainnya?... Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Tuliskan 5 nama suku bangsa beserta bahasa daerahnya.. Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Keragaman suku bangsa di indonesia di pengaruhi oleh.....tolong ya dibantu, jangan asal" an Answer Valerie46 June 2019 0 Replies ......*sorry fotonya kebalik Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Tolong ya...dijawab lengkap, pr dikumpulkan besok.. Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Tolong jawab..pilgan nyaa. 4454 3122b. 4455 3143c. 4454 314d. 4234 3133 tolong dibantu ya... pr dikumpulkan besok Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Tuliskan kata dalam lagu sue ora jamu yang memiliki nada rendah dan tinggi Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Lagu satu nusa satu bangsa dinyanikan dengan tempo?? Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Aku punya bebek 6 dikali 2 jadi berapa bebek ku yang sebenar nya? soal tidak spesifik mohon jawab yang benar dan kurang spesifik juga jadi jawab 2 ya Answer Valerie46 June 2019 0 Replies Apa yang di sebut rima Answer
orang tuamu selalu menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi